"jangan terpukau dengan tirai aurora, padahal dibelakangnya ada bintang disanding rembulan merdu"
kata2 keramat ini dituliskan oleh seorang murid yang hari selasa lalu kumintai kesan dan pesan tentang pembelajaran yang kami lalui selama setahun kebersamaan di sekolah. banyak hal yang terfikirkan dari secarik kertas yang dia tulis dengan kata-kata di atas. reaksi jelas yang keluar dari rautku hanyalah segaris senyum yang mungkin cukup manis dibanding wajah cemberut yang sering tampil tanpa kusengaja. selebihnya rumit mengartikan apa yang aku rasakan dari kata2 ini. bagiku dia memang sangat biasa. tak terlalu istimewa untuk lebih jauh diperhatikan (masing-masing anak tentu sangat special dan istimewa). anak yang tak pernah kudapati membuat ulah di lokal, tak juga terlalu pintar sebagai bintang kelas. biasanya dia membuatku merasa tak perlu memasukkannya dalam daftar nama2 orang yang akan kusampaikan keberartiannya. karna menurutku keberartian ini hanya akan kusampaikan pada orang yang tidak tau bahwa dia itu berarti. kulihat dia tahu bahwa dia berarti, tanpa harus kusampaikan lewat sapaan, perhatian atau bahkan teguran. tapi tetap kata2 itu mengusikku. keinginan untuk menjadi pendidik yang ideal memaksaku untuk terus mengambil hikmah dari sekecil apapun kejadian. mungkin perlakuanku yang tidak mencoba untuk menghadirkan kesadaran bahwa ia seorang bintang yang terang, adalah hal besar baginya. aku terkadang lupa bahwa mereka sangat sensitif dengan perhatian, mereka mudah merajuk.
mungkin sekedar pembelaan diri, dia mungkin bukan juga tirai aurora, nak.... masing-masing kalian berhak menjadi bintang, bintang yang sama-sama terang di langit sana, menghiasi angkasa raya. bintang penanda bahwa hari akan diliputi cerah merekah, nak... asal kamu tahu, dia bukan hanya tidak sadar bahwa dia bisa menjadi bintang, dia bahkan tidak menganggap bahwa dirinya tirai aurora yang tetap artistik untuk dipantau. si Aurora ini butuh dipantau, tidak sepertimu yang akan tegar untuk berdiri ketika jatuh. dia sangat rapuh, karena air mata itu menetes kedalam. itu sangat menyakitkan. nak... dia tak mampu menangis, dia kehilangan kata-kata untuk berucap, dia hanya melihat gelap, aku harus meneranginya, walau sinarkupun sangat redup.
(buat anak2ku di PIAR, terkhusus kelas 3 SMP)
ASSALAMU 'ALAIKUM WR. WB.
kitakah sang pengukir jejak?!!!, dengan tapak-tapak susah
derai keringat membasah, air mata menderas, bahkan darah memerah
jejak akan menjadi ukiran berbentuk dengan adanya ....mengindah...berwarna
jejak itulah yang terus tampak sampai hari ini, diseantero tanah anbiya'
jejak pejuang tanah terluka, penghantar syuhada....,jejak itu akan ada disini...disana..pijakan bumi manapun
pada jiwa-jiwa yang sedia menjadi kanvas
derai keringat membasah, air mata menderas, bahkan darah memerah
jejak akan menjadi ukiran berbentuk dengan adanya ....mengindah...berwarna
jejak itulah yang terus tampak sampai hari ini, diseantero tanah anbiya'
jejak pejuang tanah terluka, penghantar syuhada....,jejak itu akan ada disini...disana..pijakan bumi manapun
pada jiwa-jiwa yang sedia menjadi kanvas
Senin, 27 April 2009
Minggu, 26 April 2009
Tulisan Perdana
Tujuan awal saya untuk membuat blog ini adalah untuk melatih, mengasah dan mempublikasikan tulisan saya di internet. disamping itu, saya juga ingn mencari relasi dan jaringan.
Langganan:
Postingan (Atom)