assalam,
lama tak menyapamu, kukini sibuk, untuk gapai impian yang menguat dalam tiap detakan detik waktu. Merasa waktu kian sempit tuk berbuat banyak. Idealisme lama hanya membuat kesemuan makin jelas. Bukankah Rosulullah juga mencontohkan pola real life, tapi ku biar hanya menjadi monopoli segelintir orang culas. Ku yang merasa tidak culas sebenarnya hampir sama, berkukbang pada garis abu2 kemalasan. Apapun namanya, ku ingin menjadi pemberi dan pebangun. pada zaman yang semakin menuhankan materi. bukan untuk dipertuhan, bodoh sekali. kitalah penggenggam, bukan orang2 yang digenggam, pasrah siap menunggu saat-saat diremas hancur dan berai menjadi remah berserakan yang direbuti oleh burung-burung. ku penentu, bukan lah orang-orang yang selalu ditentukan oleh zaman. ku hamba Robb yang merdeka dari hamba
JEJAK
ASSALAMU 'ALAIKUM WR. WB.
kitakah sang pengukir jejak?!!!, dengan tapak-tapak susah
derai keringat membasah, air mata menderas, bahkan darah memerah
jejak akan menjadi ukiran berbentuk dengan adanya ....mengindah...berwarna
jejak itulah yang terus tampak sampai hari ini, diseantero tanah anbiya'
jejak pejuang tanah terluka, penghantar syuhada....,jejak itu akan ada disini...disana..pijakan bumi manapun
pada jiwa-jiwa yang sedia menjadi kanvas
derai keringat membasah, air mata menderas, bahkan darah memerah
jejak akan menjadi ukiran berbentuk dengan adanya ....mengindah...berwarna
jejak itulah yang terus tampak sampai hari ini, diseantero tanah anbiya'
jejak pejuang tanah terluka, penghantar syuhada....,jejak itu akan ada disini...disana..pijakan bumi manapun
pada jiwa-jiwa yang sedia menjadi kanvas
Jumat, 22 Oktober 2010
Rabu, 04 Agustus 2010
Tegar
Kadang ada bisik jiwa yang bertanya, kenapa badai itu selalu ada,
Kadang ada seloroh dalam diam: mentarimu kenapa tak kunjung terang
Kau selalu bermasalah,sampai ada kata diri: kau memang manusia masalah
Namun istighfar membangkitkan jiwa,
Itu karena Allah sayang padamu......!!!!!!!!!!!
Dia ingin kau tegar...
Tegar...???
Benarkahjiwa ini mampu tegar???
Disini kecamuk asa bergulat dengan tangis yang tertahan
Disana ... sosok yang sangat aku cinta entah seperti apa????
Entah sedang apa...???
Sementara pengabdian jiwa raga baru secuil kail, baru seujung kuku.....
Rasanya tak termaafkan
Jiwa itu bagai melayang terkadang....
Raga ini limbung tercenung.......
Harus bagaimana hamba Robb???
Benar kata adikku sayang,
Hanya padamu tempat pengaduan yang pasti,... pasti kan terjawab
Ya... ROBB pandanglah sihina ini, kabulknlah silemah ini
Ia sangat berharap pada-MU
Titip bunda tersayang, yang kini terbaring entah bagaimana
ROBB... kalau bisa, hamba harap bisa gantikan sakitnya...
ROBB,hamba harap, mohon dengan sangat, dengan sangat... sembuhkan ia..sembuhkan bunda sayang, jiwa... raganya
Beralun nada yang mulai terkenali indah, menyusupi jiwa menyiram gersang hati yang lunglai.
Kadang ada seloroh dalam diam: mentarimu kenapa tak kunjung terang
Kau selalu bermasalah,sampai ada kata diri: kau memang manusia masalah
Namun istighfar membangkitkan jiwa,
Itu karena Allah sayang padamu......!!!!!!!!!!!
Dia ingin kau tegar...
Tegar...???
Benarkahjiwa ini mampu tegar???
Disini kecamuk asa bergulat dengan tangis yang tertahan
Disana ... sosok yang sangat aku cinta entah seperti apa????
Entah sedang apa...???
Sementara pengabdian jiwa raga baru secuil kail, baru seujung kuku.....
Rasanya tak termaafkan
Jiwa itu bagai melayang terkadang....
Raga ini limbung tercenung.......
Harus bagaimana hamba Robb???
Benar kata adikku sayang,
Hanya padamu tempat pengaduan yang pasti,... pasti kan terjawab
Ya... ROBB pandanglah sihina ini, kabulknlah silemah ini
Ia sangat berharap pada-MU
Titip bunda tersayang, yang kini terbaring entah bagaimana
ROBB... kalau bisa, hamba harap bisa gantikan sakitnya...
ROBB,hamba harap, mohon dengan sangat, dengan sangat... sembuhkan ia..sembuhkan bunda sayang, jiwa... raganya
Beralun nada yang mulai terkenali indah, menyusupi jiwa menyiram gersang hati yang lunglai.
WAJAH PEWARIS PERADABAN (pada harapku)
Mereka adalah bocah-bocah polos, wajah indah yang masih aneh dengan dosa, wajah ini begitu senang membuatku tersenyum. Wajah ini kan merubah dunia (harapku). Wajah ini akan mengalahkan Einstein, mengungguli habibi ( Harapku) sekokoh Sholahuddin. Wajah-wajah ini akan tercetak gagah, tangguh dan ber ruh (lagi-lagi harapku)
YA Robb…. Jangan biarkan wajah-wajah ini menjadi wajah-wajah yang kabur tergerus zaman, menjadi wajah-wajah cengeng perusak masa…jangan ya Robbb…jangan jadikan mereka generasi picisan, mereka haruslah generasi Robbani. Wajah yang begitu besar rindunya pada Al-Quds, tak enak makan dan tak nyenyak tidurnya saat mendengar saudaranya terdhzolimi, Para ghuroba yang mencintai-Mu seperti Engkau juga mencintai mereka. (03-06-2010, untuk anak-anakku di PIAR dan SMP IT).
Guru Asrama
Inilah hariku kini, bertugas sebagai guru asrama, peran yang dulu aku tolak habis-habisan di Arrisalah. Peran berat, tanggung jawab besar, rasanya frustasi memikirkan akan menjadi agen of change disini. Tapi itulah kenyataannya, dipiar aku bisa manja, menopangkan wajjib ini pada yang lain, sang senior yang lebih berkafaah (menurutku). Namun disini, protes hatiku berjumpalit, miris jiwaku semakin bertimbun dansedihnya lagi kondisi ruhiyahku menggudang kerdil. Tak lah mungkin sekedar protes, memalukan, dan tak juamampu berlagak plegmatis, karena itu bukan aku huffff….hmmm..
Berbenah…, ya… itu memang wajib bagiku, ruh ini terlalu lama lengang, waktu menggerus hamasahnya.
Terlalu besar yang mereka tumpangkan dipundak ini, tak mungkin kubuat asa mereka pupus.inilah inginku setahun yang lalu, tapi kini ia tlah mengganti. Ho..oh tidak, tak seharusnya ada nada sesal yang berceloteh. Ini karna Dia masih peduli, tak biarkan ku tenggelam, berikan seutas tali yang menyisa megap. Menyeretku ketepian, mengingatkan bahaya yang membanyak.
Penguat itu kini berdengung, mereka ada, banyak dan mengata serumpun mampu agarku menjadi sang muharrikah.
YA Robb…. Jangan biarkan wajah-wajah ini menjadi wajah-wajah yang kabur tergerus zaman, menjadi wajah-wajah cengeng perusak masa…jangan ya Robbb…jangan jadikan mereka generasi picisan, mereka haruslah generasi Robbani. Wajah yang begitu besar rindunya pada Al-Quds, tak enak makan dan tak nyenyak tidurnya saat mendengar saudaranya terdhzolimi, Para ghuroba yang mencintai-Mu seperti Engkau juga mencintai mereka. (03-06-2010, untuk anak-anakku di PIAR dan SMP IT).
Guru Asrama
Inilah hariku kini, bertugas sebagai guru asrama, peran yang dulu aku tolak habis-habisan di Arrisalah. Peran berat, tanggung jawab besar, rasanya frustasi memikirkan akan menjadi agen of change disini. Tapi itulah kenyataannya, dipiar aku bisa manja, menopangkan wajjib ini pada yang lain, sang senior yang lebih berkafaah (menurutku). Namun disini, protes hatiku berjumpalit, miris jiwaku semakin bertimbun dansedihnya lagi kondisi ruhiyahku menggudang kerdil. Tak lah mungkin sekedar protes, memalukan, dan tak juamampu berlagak plegmatis, karena itu bukan aku huffff….hmmm..
Berbenah…, ya… itu memang wajib bagiku, ruh ini terlalu lama lengang, waktu menggerus hamasahnya.
Terlalu besar yang mereka tumpangkan dipundak ini, tak mungkin kubuat asa mereka pupus.inilah inginku setahun yang lalu, tapi kini ia tlah mengganti. Ho..oh tidak, tak seharusnya ada nada sesal yang berceloteh. Ini karna Dia masih peduli, tak biarkan ku tenggelam, berikan seutas tali yang menyisa megap. Menyeretku ketepian, mengingatkan bahaya yang membanyak.
Penguat itu kini berdengung, mereka ada, banyak dan mengata serumpun mampu agarku menjadi sang muharrikah.
ALPA dI TENGAH KETERBATASAN YANG LAPANG
Disini… kembali kukenang masa itu. Saat kulihat kau tumbuh, dengan binar-binar putih hatimu, dengan kepak-kepak kecipak inginmu, berseladu dengan waktu menggapai mimpimu.
Kau labuhi sungguhmu disana…Arrisalah. Ku tau, besar cintamu padanya…, aku juga…, tempat itu tak tergantikan bukan?!! Dia sungguh istimewa, itu karena ada kau…!
Anak-anakku , ada luahan bangga karnamu, karna aku berkesempatan pernah menjadi guru untukmu. Bukan aku saja yang mengajarimu, tapi banyak hal yang juga kau ajarkan padaku. Bukan aku yang menyemangatimu, tapi kamulah yang memompakan semangat itu didadaku.
Rindu ini hadir berkejaran ingin kembali berkumpul denganmu, berada ditengah-tengah riuhnya setoran hafalanmu, cerianya semangatmu dalam hamasah keislaman yang membuncah.
Sekarang, itu semua menara gading bagiku, kudisini berbaur dengan budaya alpa, semakin jauh ku membaur semakin berat dan pahit perjalanan , semakin kurang bekal ini, semakin bodoh dan kaku lidah ini. Ku alpa ditengah keterbatasan yang lapang. Adakah kau mengerti…???, aku hampir kalah, ditilang kemalasan. Hari ini idealisme itu makin mengabur. Memberi jati diri baru pada seonggok diri yang menghambar. Huffff, aku mohon do’amu, seperti dulu yang sering aku mintakan padamu. Karena kau tau banyak bintang yang ingin ku gapai, sepertimu juga.
Kini harapku padamu, jangan kau siakan adamu disana, seperti yang kulakukan dahulu, membiar waktu berlalu, kesempatan menghilang. Kini baru kujaga butuhnya aku akan bekal itu, hausnya aku disini.
Kau tau???, seperti juga tatapmu dari atas bukit, laut itu teramat mempesona dengan birunya., kerlap-kerlip lampu malam begitu meriah, mengalahkan indah gemintang. Tapi nak.. kini aku berada disana, ditepian pantai, digemerlap lampu-lampu bukit.
Disini begitu terik, tak ada naungan rerindang pohon, disini begitu bising, bau…dipenuhi oleh sampah. Dulu teramat rinduku kesini, kini rindu itu menjadi rasa gamang, takut, namun aku harus tetap disini. Bukan karena rinduku terjawab, tapi ada tanggung jawab berat yang sulit aku pikul, tapi harus aku tanggung.
Nak seharusnya aku tak harus lupa dengan rinduku… kalau saja aku bawa kanvas dan pewarna, aku bisa melukis kembali indahnya, seperti indahnya pandang dari bukit. Lukisan yang kan bisa kubawa serta slalu dalam Qolbuku.
Kau labuhi sungguhmu disana…Arrisalah. Ku tau, besar cintamu padanya…, aku juga…, tempat itu tak tergantikan bukan?!! Dia sungguh istimewa, itu karena ada kau…!
Anak-anakku , ada luahan bangga karnamu, karna aku berkesempatan pernah menjadi guru untukmu. Bukan aku saja yang mengajarimu, tapi banyak hal yang juga kau ajarkan padaku. Bukan aku yang menyemangatimu, tapi kamulah yang memompakan semangat itu didadaku.
Rindu ini hadir berkejaran ingin kembali berkumpul denganmu, berada ditengah-tengah riuhnya setoran hafalanmu, cerianya semangatmu dalam hamasah keislaman yang membuncah.
Sekarang, itu semua menara gading bagiku, kudisini berbaur dengan budaya alpa, semakin jauh ku membaur semakin berat dan pahit perjalanan , semakin kurang bekal ini, semakin bodoh dan kaku lidah ini. Ku alpa ditengah keterbatasan yang lapang. Adakah kau mengerti…???, aku hampir kalah, ditilang kemalasan. Hari ini idealisme itu makin mengabur. Memberi jati diri baru pada seonggok diri yang menghambar. Huffff, aku mohon do’amu, seperti dulu yang sering aku mintakan padamu. Karena kau tau banyak bintang yang ingin ku gapai, sepertimu juga.
Kini harapku padamu, jangan kau siakan adamu disana, seperti yang kulakukan dahulu, membiar waktu berlalu, kesempatan menghilang. Kini baru kujaga butuhnya aku akan bekal itu, hausnya aku disini.
Kau tau???, seperti juga tatapmu dari atas bukit, laut itu teramat mempesona dengan birunya., kerlap-kerlip lampu malam begitu meriah, mengalahkan indah gemintang. Tapi nak.. kini aku berada disana, ditepian pantai, digemerlap lampu-lampu bukit.
Disini begitu terik, tak ada naungan rerindang pohon, disini begitu bising, bau…dipenuhi oleh sampah. Dulu teramat rinduku kesini, kini rindu itu menjadi rasa gamang, takut, namun aku harus tetap disini. Bukan karena rinduku terjawab, tapi ada tanggung jawab berat yang sulit aku pikul, tapi harus aku tanggung.
Nak seharusnya aku tak harus lupa dengan rinduku… kalau saja aku bawa kanvas dan pewarna, aku bisa melukis kembali indahnya, seperti indahnya pandang dari bukit. Lukisan yang kan bisa kubawa serta slalu dalam Qolbuku.
“BATU NEGERI ANBIYA”
Dengan bangga dan harap, kusapa bocah itu, kuyakinkan ia, bahwa posturku yang gembul bisa menjadi peluru andalannya. Sikecil itu terlihat berbinar melihat harapku, ia mengangkatku dengan semangat. “ teman, tunjukkan bahwa kau benar-benar hamba Allah” gebu hatinya sambil Basmallah. Ia mengayunkanku dengan kokoh tangan mungilnya. Dengan pasti kulesatkan diri menuju titik vital sang terlaknat. geram ku hantamkan diriku kepelipisnya, yeesss….!!!!!! bahagia sekali saat darah itu mengucur deras, harusnya tak ada yang menyublim menjadi hemoglobin pada pembuluhnya. Karena dia lebih cocok menjadi drakula, bahkan lebih buas dari itu. Namun kegembiraanku tak berlangsung lama, kelompok drakulanya menarik pelatuk senapannya dan membidik bocahku, ohhh tidak…, aku meraung, menangis, meneriaki agar mereka berhenti, namun mereka tak peduli …dor..dor..dor, bocahku ternyata tlah menghilang dibalik reruntuhan bangunan. Aku lega dan teramat senang, namun sekarang aku tidak bisa lagi melesat cepat menghabisi para zionis ini. Mereka sekarang diatasku, menginjak-injakku.
Ho oh…..kenapa aku bukan bom atom yang bisa melantakkan negeri terlaknat Israel, atau sebuah rudal, atau setidaknya bom Molotov yang akan menghamburkan tubuh-tubuh mereka yang pongah dan congkak. Hhah… aku hanya batu gembul yang….hiks..hiks….tak berguna. Beberapa langkah dariku tapak kaki berderap berlari kecil, bocahku datang dengan teman-temannya, bocah-bocah 4 tahunan yang sama. Dengan wajah penuh senyum bangga ia memungutku, memamerkan ku pada teman-temannya, aku yang masih berlumur darah sanglaknatullah. Ku lihat ia begitu bangga menghapusku, menciumku… oh…Robb, ampunkan hamba yang sudah salah sangka pada-MU…
Kebahagiaan ini merona. Aku jadi tersipu. O…Indahnya jadi batu negeri Anbiya’ !!!
Ho oh…..kenapa aku bukan bom atom yang bisa melantakkan negeri terlaknat Israel, atau sebuah rudal, atau setidaknya bom Molotov yang akan menghamburkan tubuh-tubuh mereka yang pongah dan congkak. Hhah… aku hanya batu gembul yang….hiks..hiks….tak berguna. Beberapa langkah dariku tapak kaki berderap berlari kecil, bocahku datang dengan teman-temannya, bocah-bocah 4 tahunan yang sama. Dengan wajah penuh senyum bangga ia memungutku, memamerkan ku pada teman-temannya, aku yang masih berlumur darah sanglaknatullah. Ku lihat ia begitu bangga menghapusku, menciumku… oh…Robb, ampunkan hamba yang sudah salah sangka pada-MU…
Kebahagiaan ini merona. Aku jadi tersipu. O…Indahnya jadi batu negeri Anbiya’ !!!
LUKISAN
Ketika kau melangkah, mengukir jejak disepanjang jalan dakwah. Maka lukislah tapak demi tapakmu dengan permanen, jelas, dengan sepatu yang pas. Jangan biarkan tapal-tapal kuda atau sekedar jejak hewani yang membuatnya rancu. Hapus dan ukir sebersih mungkin tapak yang kau kenali “dirimu” yang dicipta Tuhanmu sebagai hamba-Nya.
Buat ukiran yang lebih indah dari sekedar tetapak ratu Balqis, atau sicantik zulaikha. Mungkin seperti sipecinta Rabi’atil Adawiyah, atau si dermawan Ibunda Khadijah. jangan gundah, lelah dan goyah, karena kau berjanji hamba, mengikrar cinta.
Pasti ada api yang membakar, atau ombak yang menghempas, tergantung banyak air yang kau punya, dan teguh karang yang kau pancang, sebagai perisai lukisanmu sebelum ia selesai.
Tak hanya selegendaris Monalisa, atau sefantastis Pieta. Ia akan sesempurna Masyithoh dalam keindahan “Syuhada”, mampu menebar kasturi keseluruh penjuru hadirmu. Itulah prestasi tertinggi bagi sosok yang bernama manusia.
Buat ukiran yang lebih indah dari sekedar tetapak ratu Balqis, atau sicantik zulaikha. Mungkin seperti sipecinta Rabi’atil Adawiyah, atau si dermawan Ibunda Khadijah. jangan gundah, lelah dan goyah, karena kau berjanji hamba, mengikrar cinta.
Pasti ada api yang membakar, atau ombak yang menghempas, tergantung banyak air yang kau punya, dan teguh karang yang kau pancang, sebagai perisai lukisanmu sebelum ia selesai.
Tak hanya selegendaris Monalisa, atau sefantastis Pieta. Ia akan sesempurna Masyithoh dalam keindahan “Syuhada”, mampu menebar kasturi keseluruh penjuru hadirmu. Itulah prestasi tertinggi bagi sosok yang bernama manusia.
KERTAS YANG MELUSUH
Begitu banyak penggoda
Tuk sebarkan tinta dikertas hati ini
Sering jenuh menerpa, tuk usaha slalu menghindarinya
Terkadang, ia memoreng dengan sepenuh coreng
Hingga hati ini kelam, sepenuh hitam
Menghilangkan sinar terpaan rembulan
Nan purnama diatas kertas lusuh hitam bertinta
Robbi….
Sungguh sulit hamba menghindar
Tak hendak ini terjadi, tak ingin terkotori
Namun, itulah lalai yang nista
Mungkin impian hamba kurang meninggi
Rindu hamba kurang meraja
Untuk syurga-Mu, Cinta-Mu
Abadi dari-Mu ya Robb..
Tuk sebarkan tinta dikertas hati ini
Sering jenuh menerpa, tuk usaha slalu menghindarinya
Terkadang, ia memoreng dengan sepenuh coreng
Hingga hati ini kelam, sepenuh hitam
Menghilangkan sinar terpaan rembulan
Nan purnama diatas kertas lusuh hitam bertinta
Robbi….
Sungguh sulit hamba menghindar
Tak hendak ini terjadi, tak ingin terkotori
Namun, itulah lalai yang nista
Mungkin impian hamba kurang meninggi
Rindu hamba kurang meraja
Untuk syurga-Mu, Cinta-Mu
Abadi dari-Mu ya Robb..
Langganan:
Postingan (Atom)