Disini… kembali kukenang masa itu. Saat kulihat kau tumbuh, dengan binar-binar putih hatimu, dengan kepak-kepak kecipak inginmu, berseladu dengan waktu menggapai mimpimu.
Kau labuhi sungguhmu disana…Arrisalah. Ku tau, besar cintamu padanya…, aku juga…, tempat itu tak tergantikan bukan?!! Dia sungguh istimewa, itu karena ada kau…!
Anak-anakku , ada luahan bangga karnamu, karna aku berkesempatan pernah menjadi guru untukmu. Bukan aku saja yang mengajarimu, tapi banyak hal yang juga kau ajarkan padaku. Bukan aku yang menyemangatimu, tapi kamulah yang memompakan semangat itu didadaku.
Rindu ini hadir berkejaran ingin kembali berkumpul denganmu, berada ditengah-tengah riuhnya setoran hafalanmu, cerianya semangatmu dalam hamasah keislaman yang membuncah.
Sekarang, itu semua menara gading bagiku, kudisini berbaur dengan budaya alpa, semakin jauh ku membaur semakin berat dan pahit perjalanan , semakin kurang bekal ini, semakin bodoh dan kaku lidah ini. Ku alpa ditengah keterbatasan yang lapang. Adakah kau mengerti…???, aku hampir kalah, ditilang kemalasan. Hari ini idealisme itu makin mengabur. Memberi jati diri baru pada seonggok diri yang menghambar. Huffff, aku mohon do’amu, seperti dulu yang sering aku mintakan padamu. Karena kau tau banyak bintang yang ingin ku gapai, sepertimu juga.
Kini harapku padamu, jangan kau siakan adamu disana, seperti yang kulakukan dahulu, membiar waktu berlalu, kesempatan menghilang. Kini baru kujaga butuhnya aku akan bekal itu, hausnya aku disini.
Kau tau???, seperti juga tatapmu dari atas bukit, laut itu teramat mempesona dengan birunya., kerlap-kerlip lampu malam begitu meriah, mengalahkan indah gemintang. Tapi nak.. kini aku berada disana, ditepian pantai, digemerlap lampu-lampu bukit.
Disini begitu terik, tak ada naungan rerindang pohon, disini begitu bising, bau…dipenuhi oleh sampah. Dulu teramat rinduku kesini, kini rindu itu menjadi rasa gamang, takut, namun aku harus tetap disini. Bukan karena rinduku terjawab, tapi ada tanggung jawab berat yang sulit aku pikul, tapi harus aku tanggung.
Nak seharusnya aku tak harus lupa dengan rinduku… kalau saja aku bawa kanvas dan pewarna, aku bisa melukis kembali indahnya, seperti indahnya pandang dari bukit. Lukisan yang kan bisa kubawa serta slalu dalam Qolbuku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar