Mereka adalah bocah-bocah polos, wajah indah yang masih aneh dengan dosa, wajah ini begitu senang membuatku tersenyum. Wajah ini kan merubah dunia (harapku). Wajah ini akan mengalahkan Einstein, mengungguli habibi ( Harapku) sekokoh Sholahuddin. Wajah-wajah ini akan tercetak gagah, tangguh dan ber ruh (lagi-lagi harapku)
YA Robb…. Jangan biarkan wajah-wajah ini menjadi wajah-wajah yang kabur tergerus zaman, menjadi wajah-wajah cengeng perusak masa…jangan ya Robbb…jangan jadikan mereka generasi picisan, mereka haruslah generasi Robbani. Wajah yang begitu besar rindunya pada Al-Quds, tak enak makan dan tak nyenyak tidurnya saat mendengar saudaranya terdhzolimi, Para ghuroba yang mencintai-Mu seperti Engkau juga mencintai mereka. (03-06-2010, untuk anak-anakku di PIAR dan SMP IT).
Guru Asrama
Inilah hariku kini, bertugas sebagai guru asrama, peran yang dulu aku tolak habis-habisan di Arrisalah. Peran berat, tanggung jawab besar, rasanya frustasi memikirkan akan menjadi agen of change disini. Tapi itulah kenyataannya, dipiar aku bisa manja, menopangkan wajjib ini pada yang lain, sang senior yang lebih berkafaah (menurutku). Namun disini, protes hatiku berjumpalit, miris jiwaku semakin bertimbun dansedihnya lagi kondisi ruhiyahku menggudang kerdil. Tak lah mungkin sekedar protes, memalukan, dan tak juamampu berlagak plegmatis, karena itu bukan aku huffff….hmmm..
Berbenah…, ya… itu memang wajib bagiku, ruh ini terlalu lama lengang, waktu menggerus hamasahnya.
Terlalu besar yang mereka tumpangkan dipundak ini, tak mungkin kubuat asa mereka pupus.inilah inginku setahun yang lalu, tapi kini ia tlah mengganti. Ho..oh tidak, tak seharusnya ada nada sesal yang berceloteh. Ini karna Dia masih peduli, tak biarkan ku tenggelam, berikan seutas tali yang menyisa megap. Menyeretku ketepian, mengingatkan bahaya yang membanyak.
Penguat itu kini berdengung, mereka ada, banyak dan mengata serumpun mampu agarku menjadi sang muharrikah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar