Dengan bangga dan harap, kusapa bocah itu, kuyakinkan ia, bahwa posturku yang gembul bisa menjadi peluru andalannya. Sikecil itu terlihat berbinar melihat harapku, ia mengangkatku dengan semangat. “ teman, tunjukkan bahwa kau benar-benar hamba Allah” gebu hatinya sambil Basmallah. Ia mengayunkanku dengan kokoh tangan mungilnya. Dengan pasti kulesatkan diri menuju titik vital sang terlaknat. geram ku hantamkan diriku kepelipisnya, yeesss….!!!!!! bahagia sekali saat darah itu mengucur deras, harusnya tak ada yang menyublim menjadi hemoglobin pada pembuluhnya. Karena dia lebih cocok menjadi drakula, bahkan lebih buas dari itu. Namun kegembiraanku tak berlangsung lama, kelompok drakulanya menarik pelatuk senapannya dan membidik bocahku, ohhh tidak…, aku meraung, menangis, meneriaki agar mereka berhenti, namun mereka tak peduli …dor..dor..dor, bocahku ternyata tlah menghilang dibalik reruntuhan bangunan. Aku lega dan teramat senang, namun sekarang aku tidak bisa lagi melesat cepat menghabisi para zionis ini. Mereka sekarang diatasku, menginjak-injakku.
Ho oh…..kenapa aku bukan bom atom yang bisa melantakkan negeri terlaknat Israel, atau sebuah rudal, atau setidaknya bom Molotov yang akan menghamburkan tubuh-tubuh mereka yang pongah dan congkak. Hhah… aku hanya batu gembul yang….hiks..hiks….tak berguna. Beberapa langkah dariku tapak kaki berderap berlari kecil, bocahku datang dengan teman-temannya, bocah-bocah 4 tahunan yang sama. Dengan wajah penuh senyum bangga ia memungutku, memamerkan ku pada teman-temannya, aku yang masih berlumur darah sanglaknatullah. Ku lihat ia begitu bangga menghapusku, menciumku… oh…Robb, ampunkan hamba yang sudah salah sangka pada-MU…
Kebahagiaan ini merona. Aku jadi tersipu. O…Indahnya jadi batu negeri Anbiya’ !!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar