Ketika kau melangkah, mengukir jejak disepanjang jalan dakwah. Maka lukislah tapak demi tapakmu dengan permanen, jelas, dengan sepatu yang pas. Jangan biarkan tapal-tapal kuda atau sekedar jejak hewani yang membuatnya rancu. Hapus dan ukir sebersih mungkin tapak yang kau kenali “dirimu” yang dicipta Tuhanmu sebagai hamba-Nya.
Buat ukiran yang lebih indah dari sekedar tetapak ratu Balqis, atau sicantik zulaikha. Mungkin seperti sipecinta Rabi’atil Adawiyah, atau si dermawan Ibunda Khadijah. jangan gundah, lelah dan goyah, karena kau berjanji hamba, mengikrar cinta.
Pasti ada api yang membakar, atau ombak yang menghempas, tergantung banyak air yang kau punya, dan teguh karang yang kau pancang, sebagai perisai lukisanmu sebelum ia selesai.
Tak hanya selegendaris Monalisa, atau sefantastis Pieta. Ia akan sesempurna Masyithoh dalam keindahan “Syuhada”, mampu menebar kasturi keseluruh penjuru hadirmu. Itulah prestasi tertinggi bagi sosok yang bernama manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar