ASSALAMU 'ALAIKUM WR. WB.

kitakah sang pengukir jejak?!!!, dengan tapak-tapak susah
derai keringat membasah, air mata menderas, bahkan darah memerah
jejak akan menjadi ukiran berbentuk dengan adanya ....mengindah...berwarna
jejak itulah yang terus tampak sampai hari ini, diseantero tanah anbiya'
jejak pejuang tanah terluka, penghantar syuhada....,jejak itu akan ada disini...disana..pijakan bumi manapun
pada jiwa-jiwa yang sedia menjadi kanvas

Rabu, 04 Agustus 2010

Tegar

Kadang ada bisik jiwa yang bertanya, kenapa badai itu selalu ada,
Kadang ada seloroh dalam diam: mentarimu kenapa tak kunjung terang
Kau selalu bermasalah,sampai ada kata diri: kau memang manusia masalah
Namun istighfar membangkitkan jiwa,
Itu karena Allah sayang padamu......!!!!!!!!!!!
Dia ingin kau tegar...

Tegar...???
Benarkahjiwa ini mampu tegar???
Disini kecamuk asa bergulat dengan tangis yang tertahan
Disana ... sosok yang sangat aku cinta entah seperti apa????
Entah sedang apa...???
Sementara pengabdian jiwa raga baru secuil kail, baru seujung kuku.....
Rasanya tak termaafkan
Jiwa itu bagai melayang terkadang....
Raga ini limbung tercenung.......

Harus bagaimana hamba Robb???
Benar kata adikku sayang,
Hanya padamu tempat pengaduan yang pasti,... pasti kan terjawab
Ya... ROBB pandanglah sihina ini, kabulknlah silemah ini
Ia sangat berharap pada-MU
Titip bunda tersayang, yang kini terbaring entah bagaimana
ROBB... kalau bisa, hamba harap bisa gantikan sakitnya...
ROBB,hamba harap, mohon dengan sangat, dengan sangat... sembuhkan ia..sembuhkan bunda sayang, jiwa... raganya


Beralun nada yang mulai terkenali indah, menyusupi jiwa menyiram gersang hati yang lunglai.

WAJAH PEWARIS PERADABAN (pada harapku)

Mereka adalah bocah-bocah polos, wajah indah yang masih aneh dengan dosa, wajah ini begitu senang membuatku tersenyum. Wajah ini kan merubah dunia (harapku). Wajah ini akan mengalahkan Einstein, mengungguli habibi ( Harapku) sekokoh Sholahuddin. Wajah-wajah ini akan tercetak gagah, tangguh dan ber ruh (lagi-lagi harapku)
YA Robb…. Jangan biarkan wajah-wajah ini menjadi wajah-wajah yang kabur tergerus zaman, menjadi wajah-wajah cengeng perusak masa…jangan ya Robbb…jangan jadikan mereka generasi picisan, mereka haruslah generasi Robbani. Wajah yang begitu besar rindunya pada Al-Quds, tak enak makan dan tak nyenyak tidurnya saat mendengar saudaranya terdhzolimi, Para ghuroba yang mencintai-Mu seperti Engkau juga mencintai mereka. (03-06-2010, untuk anak-anakku di PIAR dan SMP IT).



Guru Asrama
Inilah hariku kini, bertugas sebagai guru asrama, peran yang dulu aku tolak habis-habisan di Arrisalah. Peran berat, tanggung jawab besar, rasanya frustasi memikirkan akan menjadi agen of change disini. Tapi itulah kenyataannya, dipiar aku bisa manja, menopangkan wajjib ini pada yang lain, sang senior yang lebih berkafaah (menurutku). Namun disini, protes hatiku berjumpalit, miris jiwaku semakin bertimbun dansedihnya lagi kondisi ruhiyahku menggudang kerdil. Tak lah mungkin sekedar protes, memalukan, dan tak juamampu berlagak plegmatis, karena itu bukan aku huffff….hmmm..
Berbenah…, ya… itu memang wajib bagiku, ruh ini terlalu lama lengang, waktu menggerus hamasahnya.
Terlalu besar yang mereka tumpangkan dipundak ini, tak mungkin kubuat asa mereka pupus.inilah inginku setahun yang lalu, tapi kini ia tlah mengganti. Ho..oh tidak, tak seharusnya ada nada sesal yang berceloteh. Ini karna Dia masih peduli, tak biarkan ku tenggelam, berikan seutas tali yang menyisa megap. Menyeretku ketepian, mengingatkan bahaya yang membanyak.
Penguat itu kini berdengung, mereka ada, banyak dan mengata serumpun mampu agarku menjadi sang muharrikah.

ALPA dI TENGAH KETERBATASAN YANG LAPANG

Disini… kembali kukenang masa itu. Saat kulihat kau tumbuh, dengan binar-binar putih hatimu, dengan kepak-kepak kecipak inginmu, berseladu dengan waktu menggapai mimpimu.
Kau labuhi sungguhmu disana…Arrisalah. Ku tau, besar cintamu padanya…, aku juga…, tempat itu tak tergantikan bukan?!! Dia sungguh istimewa, itu karena ada kau…!
Anak-anakku , ada luahan bangga karnamu, karna aku berkesempatan pernah menjadi guru untukmu. Bukan aku saja yang mengajarimu, tapi banyak hal yang juga kau ajarkan padaku. Bukan aku yang menyemangatimu, tapi kamulah yang memompakan semangat itu didadaku.
Rindu ini hadir berkejaran ingin kembali berkumpul denganmu, berada ditengah-tengah riuhnya setoran hafalanmu, cerianya semangatmu dalam hamasah keislaman yang membuncah.
Sekarang, itu semua menara gading bagiku, kudisini berbaur dengan budaya alpa, semakin jauh ku membaur semakin berat dan pahit perjalanan , semakin kurang bekal ini, semakin bodoh dan kaku lidah ini. Ku alpa ditengah keterbatasan yang lapang. Adakah kau mengerti…???, aku hampir kalah, ditilang kemalasan. Hari ini idealisme itu makin mengabur. Memberi jati diri baru pada seonggok diri yang menghambar. Huffff, aku mohon do’amu, seperti dulu yang sering aku mintakan padamu. Karena kau tau banyak bintang yang ingin ku gapai, sepertimu juga.
Kini harapku padamu, jangan kau siakan adamu disana, seperti yang kulakukan dahulu, membiar waktu berlalu, kesempatan menghilang. Kini baru kujaga butuhnya aku akan bekal itu, hausnya aku disini.
Kau tau???, seperti juga tatapmu dari atas bukit, laut itu teramat mempesona dengan birunya., kerlap-kerlip lampu malam begitu meriah, mengalahkan indah gemintang. Tapi nak.. kini aku berada disana, ditepian pantai, digemerlap lampu-lampu bukit.
Disini begitu terik, tak ada naungan rerindang pohon, disini begitu bising, bau…dipenuhi oleh sampah. Dulu teramat rinduku kesini, kini rindu itu menjadi rasa gamang, takut, namun aku harus tetap disini. Bukan karena rinduku terjawab, tapi ada tanggung jawab berat yang sulit aku pikul, tapi harus aku tanggung.
Nak seharusnya aku tak harus lupa dengan rinduku… kalau saja aku bawa kanvas dan pewarna, aku bisa melukis kembali indahnya, seperti indahnya pandang dari bukit. Lukisan yang kan bisa kubawa serta slalu dalam Qolbuku.

“BATU NEGERI ANBIYA”

Dengan bangga dan harap, kusapa bocah itu, kuyakinkan ia, bahwa posturku yang gembul bisa menjadi peluru andalannya. Sikecil itu terlihat berbinar melihat harapku, ia mengangkatku dengan semangat. “ teman, tunjukkan bahwa kau benar-benar hamba Allah” gebu hatinya sambil Basmallah. Ia mengayunkanku dengan kokoh tangan mungilnya. Dengan pasti kulesatkan diri menuju titik vital sang terlaknat. geram ku hantamkan diriku kepelipisnya, yeesss….!!!!!! bahagia sekali saat darah itu mengucur deras, harusnya tak ada yang menyublim menjadi hemoglobin pada pembuluhnya. Karena dia lebih cocok menjadi drakula, bahkan lebih buas dari itu. Namun kegembiraanku tak berlangsung lama, kelompok drakulanya menarik pelatuk senapannya dan membidik bocahku, ohhh tidak…, aku meraung, menangis, meneriaki agar mereka berhenti, namun mereka tak peduli …dor..dor..dor, bocahku ternyata tlah menghilang dibalik reruntuhan bangunan. Aku lega dan teramat senang, namun sekarang aku tidak bisa lagi melesat cepat menghabisi para zionis ini. Mereka sekarang diatasku, menginjak-injakku.
Ho oh…..kenapa aku bukan bom atom yang bisa melantakkan negeri terlaknat Israel, atau sebuah rudal, atau setidaknya bom Molotov yang akan menghamburkan tubuh-tubuh mereka yang pongah dan congkak. Hhah… aku hanya batu gembul yang….hiks..hiks….tak berguna. Beberapa langkah dariku tapak kaki berderap berlari kecil, bocahku datang dengan teman-temannya, bocah-bocah 4 tahunan yang sama. Dengan wajah penuh senyum bangga ia memungutku, memamerkan ku pada teman-temannya, aku yang masih berlumur darah sanglaknatullah. Ku lihat ia begitu bangga menghapusku, menciumku… oh…Robb, ampunkan hamba yang sudah salah sangka pada-MU…
Kebahagiaan ini merona. Aku jadi tersipu. O…Indahnya jadi batu negeri Anbiya’ !!!

LUKISAN

Ketika kau melangkah, mengukir jejak disepanjang jalan dakwah. Maka lukislah tapak demi tapakmu dengan permanen, jelas, dengan sepatu yang pas. Jangan biarkan tapal-tapal kuda atau sekedar jejak hewani yang membuatnya rancu. Hapus dan ukir sebersih mungkin tapak yang kau kenali “dirimu” yang dicipta Tuhanmu sebagai hamba-Nya.
Buat ukiran yang lebih indah dari sekedar tetapak ratu Balqis, atau sicantik zulaikha. Mungkin seperti sipecinta Rabi’atil Adawiyah, atau si dermawan Ibunda Khadijah. jangan gundah, lelah dan goyah, karena kau berjanji hamba, mengikrar cinta.
Pasti ada api yang membakar, atau ombak yang menghempas, tergantung banyak air yang kau punya, dan teguh karang yang kau pancang, sebagai perisai lukisanmu sebelum ia selesai.
Tak hanya selegendaris Monalisa, atau sefantastis Pieta. Ia akan sesempurna Masyithoh dalam keindahan “Syuhada”, mampu menebar kasturi keseluruh penjuru hadirmu. Itulah prestasi tertinggi bagi sosok yang bernama manusia.

KERTAS YANG MELUSUH

Begitu banyak penggoda
Tuk sebarkan tinta dikertas hati ini
Sering jenuh menerpa, tuk usaha slalu menghindarinya
Terkadang, ia memoreng dengan sepenuh coreng
Hingga hati ini kelam, sepenuh hitam
Menghilangkan sinar terpaan rembulan
Nan purnama diatas kertas lusuh hitam bertinta
Robbi….
Sungguh sulit hamba menghindar
Tak hendak ini terjadi, tak ingin terkotori
Namun, itulah lalai yang nista
Mungkin impian hamba kurang meninggi
Rindu hamba kurang meraja
Untuk syurga-Mu, Cinta-Mu
Abadi dari-Mu ya Robb..

Bocah jalanan

”o…o kamu keta uan pa calan la gi.. dengan di linya teman baik ku...,o o ..kamu ketauan... pa ca lan la gi dengan di li nya teman baik ku...” mungkin kita akan tertawa geli mendengarkan lagu ini dinyanyikan dengan kecadelan anak 5 tahunan, kalau seandainya itu dinyanyikan adik kita dirumah sambil sedikit bertepuk dan bergoyang, tapi bagi yang punya nurani ternyata harus miris, why....????, karena lagu ini didendangkan oleh seorang anak seumuran adik kita, so... ia bernyanyi dipinggiran jalan, di lampu merah dengan celana kebdodoran, baju lusuh dan ingus yang sedikit membekas dipipi, tepatnya jam 7 pagi. Saat-saat manusia yang bernama mahasiswa yang lagi kosong kuliahan tidur-tiduran dikos nya yang hangat, para dosen dengan rapi jalinya menyetir mobil kekampus untuk mengajarkan ilmu. tok-tok tok... kaca mobil diketuk, sikecil bernyanyi, acuh dan lampu hijau menyala.. wus... mobilpun kembali melaju...
Apa yang ada diperasaan sikecil,... ia sangat polos,... tak terbersit menyalahkan siapapun, ia kembali bergerak menepi menunggu lampu merah berikutya menyala. Kembali bertepuk- sambil mendendang cadel, o..o..., beberapa mahasiswa melirik.. hmmm... kasihan juga.. kemudian kembali sibuk dengan hayalannya yang segudang, tentang hidup, bukan kehidupan tapi kemapanan bendawi, gimana yaa agar dapat nilai A, kemudian dapt kerjaan yang boafit and gaji yang besar... wa..h indah ya hidup ini, .sebentar lagi... sebentar lagi aku akan jadi PNS, ....hmmm indah nian hidup ini. Sikecil hilang tertelan debu jalanan.
Sobat entah jiwa itu masih ada padamu, atau sudah berubah mejadi tumpukan uang dan teori-teori materialisme yang harus kau capai.
Benar ...kamu hanya bisa demo, itupun sekarang tidak berani, kamu hanya tahu PNS, Gaji Besar, Kerja instan, urusan orang belakangan. Tidak kah kau berfikir, seandainya sikecil itu adalah adikmu???? Kehidupan bagaimana yang dia lalui, konsep macam apa yang akan tertanam dalam otaknya tentang hidup ini. Wacana dan hanya wacana tidak berguna bagi mereka. Dengan sangat vokal kamu lantang berujar mahasiswa adalah agen of change, tidak kah kau malu, karena benar kau berubah tapi apa yang kau rubah, ketika pulang kekampungmu kau memang merubah, merubah hal yagn sangat sia-sia, kau bahkan menjadi model bagi pribadi yang nyeleneh.
Beberapa darimu memang sering berdiskusi, mewacana, tentang sikecil dan teman-temannya, tapi hanya wacana, dan.. mereka tidak butuh wacana.
Kenapa begitu berat tangan mengulur, memberi dan berbagi,
Saudaraku... seperti kamu mereka juga manusia.. seperti kamu mereka tidak pernah berminat hidup dijalanan, mereka tidak pernah minta hidup jadi pengamen, peminta-minta, mereka sangat ingin sepertimu, berseragam sekolah atau membawa diktat-diktat kuliah, atau sangat bermimpi menjinjing sebuah laptop. Mereka sama dengan mu... hanya kamu lebih beruntung secara hartawi, namun belum tentu siapa yang lebih kerdil secara bathini,
Sekali lagi mereka manusia, punya cita sepertimu, namun mereka terlalu takut utuk menatap kelangit, untuk melihat indah dan birunya langit, putih dan bersihya awan, kamu mengajari mereka untuk merasa tak pantas!!!! Bukan memotivasi harap.

lupaaa

Kamis, 02 Februari 2006


Berhentilah berfikir kecil, gersang dan muram, kalau kau ingin menjadi orang besar, riang, dan sukses.
Kalau kau nyatakan ingin menggapai ridha Allah, maka kau harus mikirin ummat, Ummat yang besar, bukan nafsu, egois dan angkara yang ada dalam dirimu
Bangkitlah tatap sekitarmu, banyak yang kurang, berbenahlah segera, cukupi, penuhi dengan segenap mampumu, sebisamu. Jangan hanya mikirin dirimu, karena itu takkan pernah berarti dan akan mati




Brother’s & Sister’s in Palesitna, sungguh kalian telah membasuh diri kalian dengan darah, sementara kami disini air mata penghambaanpun sulit untuk membasuh, bahkan tawa2 hina yang kerap melempar, memalukan sekali perbuatan kami, kesia2an waktu dan angan tak bertuah yang senang diurai dalam mimpi-mimpi semu.
Disana kalian suci, berlomba meraih syahid, jiwa syuhadamu terbang menabur wangi, wangi yang kami abaikan. Do’akan kami disini untuk sepertimu, agar syahid sudi mendekati.
Wahai Izzudin, Yahya Ayyash, Imad Aqil dan ... Syekh ku tersayang bergembiralah kalian, karena kalian adalah orang yang sebenar-benar hidup di sisi-Nya, Sang Rahman, Sang Pecinta sejati.
Karena kecanggihan iman kalian telah melebur kecanggihan senjata-senjata tercanggih para thogut. Sedang iman kami disini sangat culun dan polos. Karena iman hanyalah gembor kata, umbar dakwah dan promosi ibadah. Keluguan yang sangat lucu. Dan mungkin kamu semua akan marahdan geram saat atraksi ini terjepret dalam handicam mu.
Wahai.... sungguh aku ingin menjadi sepertimu, rindu menjadimu........, dengan keterabtasan yang sangat, kamu begitu besar dan luar biasa. Saudaraku.. kebanggaanku, inspiratorku... berbahagialah...
Terimakasih dan maafkan aku, maafkan kami untuk kecewamu

Hai Imad Aqil, yang bahkan mayatmu yang sudah tercabik-cabik menjadi serpihan-serpihan daging oleh ratusan thagut itu masih sangat ditakuti, apa kabarmu, tentu sangat bahagia, disambut suka cita oleh keabadian yang setia. Kabarku dan kami amatlah buruk, seburuk tsunami Aceh yang pekat menghitam
Dan Bro Ayyas, Al-Muhandis Bom syahid selamat atas hafalan dan rakitanmu yang exellent, begitu mencegangkan dan kami disini bgitu memalukan
Dan.. Bro Ayyat Akhras, wahai pecinta syahid, entah pujian apa yang pantas untuk mu....
Aku benar2 malu pada kalian.....
Dan terutama pada-Mu, Robbb..
Masihkah ada peluang manusia seperti kami di sisi- Mu??


Jum’at, 03 februari 2006


Disaat kepedulian terhadap sesama dan lingkungan hilang, maka tam\npa disadari kita juga telah kehilangan sisi kemanusiaan. Yang tertinggal hanya nafsu, yang akan terus menggerogoti hidup, bahagia dan yang keabadian.

Ajaran-Mu

26 Maret 2008-03-26
Hari ini kembali terbiyah Allah menyambangi. Syukur yang tak terhingga ya Robb.. atas segala Cinta yang tetap Kau beri buat hamba
Nova kembali dari pekan baru, bercerita dengan sangat mengesankan, menghentak hati yang mulai lunglai, mengguyur jiwa yang mulai layu. Ukhti mudah-mudahan ruhul jadid dalam dirimu benar2 istiqomah, dan aku akan menyusul, dengan cita yang juga akan mengejarmu. Aku bertekad ukhty... kita akan sama meretas keridhoan-Nya. Do’akan ana juga ya....
Allah sudah berkali-kali memperlihatkan bahwa kedisiplinan adalah masalah urgen yang ada pada ana. Ok... Disisplin Dan Disiplin. Profesional. Tunjkkan bahwa inilah Islam yang penuh dengan keprofesionalan, keuletan dan kedisiplinan.

Kala Hati Mendua

Tetap ada yang memberat dihati ini Robb..
Masih sering tanya dan aduh itu muncul, masih jua sekelabat bayang menjurai
Masih tampak baris demi baris kata yang menimbulkan syahdu
Robb...
Bagaimana hamba merangkai ini pada tempat yang kanvas,
Sehingga menjelma bunga
Atau lukisan syurga yang kelak kan menjadi gurat ridho-Mu
Robb...
Bagaimana hamba meredam agar ia tak membenalu dalam hati yang pasti kan berkabut dan...pupus....
Karena benalunya seperti lumut yang begitu halus untuk dicabuti
Tapi... wahai Yang Maha Berkehendak, begitu mudah bagi-Mu menentu apa yang patut
Hamba harab Robb.... patutkan hamba bagi keridhoan-Mu
Robb...
Engkau Maha Pengampun
Ampunkan jika hati ini telah tersalah
Ampunkan jika hati ini mulai mendua, itulah khilaf hamba Robb,...ampunkan Robb....
Hidupkan jiwa ini untuk maghfirah dan keampunan-Mu
Hidupkan jiwa ini dengan dawai-dawai rindu yang selalu mengalun indah dengan syair kesejukan syurga, yakut dan marjan dilengkapi kesempurnaan Salsabila.
Dalam tiap kedipan mata yang kian perih
Dalam tiap ayunan kaki yang mulai lelah
Dalam tiap alur jiwa, desah yang resah
Alamanda 2, 22/02-08

Hidup adalah proses untuk terus belajar, tentang kasih Allah, tentang cara Allah mengungkapkan cintanya pada tiap hembusan nafas yang kita lepaskan. cinta yang tak kan pernah terbayar.
Robb...
sadarkan selalu hati ini untuk terus terjaga betapa besar cinta itu, betapa indah aturan yang Engkau rancang untuk tiap detik yang ada.
Robb... kalau ada berat dihati ini, karena tempelan debu yang ana biarkan singgah, sucikanlah ia dengan basuhan wudhuk, dan istighfar hamba
Robb...
jagakan selalu hati ini untuk meresapi tiap nikmat yang begitu tak terhingga
bisa merasakan keberadaan -Mu dalam kegalauan jiwa, kegersangan asa. Robb....getarkan hati ini... getarkan Robb.... ketika mendengar asma-Mu, getarkan Robb...
karena hamba benar-benar ingin menjadi orang-orang yang beruntung,
getaran yang takkan pernah bisa terburai oleh kefanaan yang hina.
mohon diperkenan kan Robb....
walau sihina ini yang berdo'a Engkau pasti mendengar, karena Engkau terlalu mulia untuk acuh.
Robbana Zolamna Anfusana, wainlam taghfirlana wartarhamna lanakunanna minal ghosyirinnnnn
Alamanda 2, 22/02-08

Robb…..
Hamba sadar bahwa Hidup adalah proses untuk terus belajar, tentang kasih Mu, tentang cara Mu mengungkapkan cinta pada tiap hembusan nafas yang terlepaskan. cinta yang tak kan pernah terbayar walau oleh segunung penghambaan.
Robb...
sadarkan selalu hati ini untuk terus terjaga betapa besar cinta itu, betapa indah aturan yang Engkau rancang untuk tiap detik yang ada.
Robb... kalau ada berat dihati ini, karena tempelan debu yang ana biarkan singgah, sucikanlah ia dengan basuhan wudhuk, dan istighfar hamba
Robb...
jagakan selalu hati ini untuk meresapi tiap nikmat yang begitu tak terhingga
bisa merasakan keberadaan -Mu dalam kegalauan jiwa, kegersangan asa. Robb....getarkan hati ini... getarkan Robb.... ketika mendengar asma-Mu, getarkan Robb...
karena hamba benar-benar ingin menjadi orang-orang yang beruntung,
getaran yang takkan pernah bisa terburai oleh kefanaan yang hina.
mohon diperkenan kan Robb....
walau sihina ini yang berdo'a Engkau pasti mendengar, karena Engkau terlalu mulia untuk acuh.
Robbana Zolamna Anfusana, wainlam tghfirlana wartarhamna lanakunanna minal ghosyirin

Menjaring Cahaya

Godam-godam itu terus berkejaran meluluhkan jantung yang hampir megap,
Kritis memang, harus dijagakan dengan sengatan yang menghentak, kalau tidak aku akanlah selalu katak didalam tempurung si idealis dimenara gading
Harus ada palu pengejut jiwa-jiwa yang terbawa sakit, dan kritis.
Puncak getarnya menambah jiwa yang perlu menghamba, terasa nikmat ketika ia menghiba pada Dzat yang tepat dan Maha. Jiwa yang kan menggugah rasa, bukan bias jingga sore yang kian menuju kelam dan pekat malam, tapi siluet pagi diantara kelam yang kian bias diterang mentari pagi, fajar kehidpan yang bijak.


Ketika orientasi adalah memberi, maka akan ada bahagia yang tak terkata. Ketika ia mencapai puncak ikhlas bersemi dalam nurani sebentuk fitrah yang terlalu sering diselubung kabut jahialiyah. Fitrah itu dan akan semakin hidup ketika kita asah untuk terus peka merasa, meraba rasa yang tidak menimbulkan binasa.

Bersitatap dengan cahaya maka yang ada akan nanar dan bias dan silau akan mencapai gelap tak terlihat, cahaya untuk penujuk, penerang bagi jalan. Cahaya bukanlah tatapan-tatapan

terlupa 2

09 Februari 2007
Mengharap RINDU
Ada yang masuk kemataku, biasanya ada bulu mata yang jatuh, kata orang tua pertanda ada yang rindu..
Hm.... mudah-mudahan saja benar Dia merindukan ku..
Tapi...
Sangat tidak mungkin KAU rindu pada hamba-Mu yang hina ini, hamba yang jarang meta’ati-Mu sepenuh hati, karena hati itu penuh dengan noda, noda yang tlah membeku menjadi tumpukan karat.
Tapi ada secercah sisi yang sedikit tembus cahaya … itulah harapan hamba yang akan membumbungkan rindu ini, yang akan membersihkan cinta ini sehingga ia benar-benar tertambat pada pelabuhan yan tepat. Karena hamba masih merasakan senyuman –Mu ... senyum untuk relung yang hamba mohonkan tetap suci bersih dan bening.
Walau hamba masihlah manusia.... tempatnya khilaf dan salah.
Tapi dengan tanpa malu senyum-Mu slalu hamba pinta.

Cinta ini akan merekah hanya untuk-Mu
Cinta ini kan bersenandung hanya karena-Mu
Cinta akan merindu hanya pada-Mu
Jiwa ini akan tergetar dengan nama-Mu

Catt. yang hampir terlupakan

01, Maret 2006

VIRUS
Astaghfirullah........
Mungkin benar, hati mulai terserang virus.
Naudzubillah... Robb... tolong hamba,..Jangan biarkan ia terus hidup
Liar, berkembang dan menang dalam tubuh ini.
Ya.. Robb... jangan biarkan jiwa ini semakin rongsok, semakin hancur
Bimbing hamba Robb..
Tuntaskan kisah cinta ini untuk-Mu Robb, hanya untuk-Mu
Jangan sisakan relung yang lain untuk selain-Mu, kalaupu ada biarlah mereka hanya menjadi penumpang gelap di rumah-Mu. ”hati ini”



10 maret 2006

Kadang bahkan kerap sekali kita terlalu banyak bicara, tanpa adanya esensitas manfaat yang dimunculkan, bahkan kita seolah tukang kaba istana. Realisasinya dari kita seperti apa menjadi hal yang nomor sekian dalam perencanaan kita.
Kapan mulut ini benar-benar terkatup untuk menutur kata yang sia-sia? Kapan otak ini terhenti untuk kepicikan? Entah siapa yang akan bergerak. Yang jelas Robb... bimbingan-Mu..., rahmat-Mu dan hidayah-Mu adalah harga termahal dan tak bisa dibalas dengan apapun namanya.