Godam-godam itu terus berkejaran meluluhkan jantung yang hampir megap,
Kritis memang, harus dijagakan dengan sengatan yang menghentak, kalau tidak aku akanlah selalu katak didalam tempurung si idealis dimenara gading
Harus ada palu pengejut jiwa-jiwa yang terbawa sakit, dan kritis.
Puncak getarnya menambah jiwa yang perlu menghamba, terasa nikmat ketika ia menghiba pada Dzat yang tepat dan Maha. Jiwa yang kan menggugah rasa, bukan bias jingga sore yang kian menuju kelam dan pekat malam, tapi siluet pagi diantara kelam yang kian bias diterang mentari pagi, fajar kehidpan yang bijak.
Ketika orientasi adalah memberi, maka akan ada bahagia yang tak terkata. Ketika ia mencapai puncak ikhlas bersemi dalam nurani sebentuk fitrah yang terlalu sering diselubung kabut jahialiyah. Fitrah itu dan akan semakin hidup ketika kita asah untuk terus peka merasa, meraba rasa yang tidak menimbulkan binasa.
Bersitatap dengan cahaya maka yang ada akan nanar dan bias dan silau akan mencapai gelap tak terlihat, cahaya untuk penujuk, penerang bagi jalan. Cahaya bukanlah tatapan-tatapan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar